Profil Desa

DESA TAWING

Wilayah Desa Tawing terletak pada wilayah dataran rendah Dengan koordinat antara 8ͦ 6’7”S dan 111ͦ  51’ 46” E , dengan luas 84.35 km2 atau 120.5 ha. Pusat pemerintahan Desa Tawing terletak di Dusun Temenggungan RT. 03  RW. 03 dengan menempati areal lahan seluas 1400 m2. Jumlah penduduk Desa Tawing sebanyak 2619 jiwa yang tersebar di 3 Dusun, 6 RW dan 18 RT. Dari jumlah tersebut, terdiri dari laki-laki 1278 jiwa dan perempuan 1341 jiwa dengan tingkat pertumbuhan rata-rata selama 6 (enam) Tahun terakhir 0.001 %, dengan tingkat kepadatan sebesar 21,5 jiwa/km2.

Sejarah

Sejarah atau latar belakang suatu daerah merupakan pencerminan dari karakter dan perincian khas tertentu dari daerah itu sendiri. Setiap Desa atau daerah pasti memiliki sejarah. Sejarah Desa atau daerah sering kali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun-tumurun dari mulut ke mulut sehingga sulit untuk dibuktikan secara fisik. Tidak jarang juga dongeng atau legenda tersebut dihubungkan dengan mitos tempat-tempat tertentu yang dianggap keramat. Dalam hal ini Desa Tawing juga memiliki hal tersebut yang merupakan identitas dari Desa ini.  
  1. Mengenal Tumenggung Notodiwirya
Tumenggung Notodiwirya diyakini masyarakat Desa Tawing sebagai tokoh yang membuka hutan dan rawa-rawa sehingga terbentuk Desa Tawing. Beliau berasal dari daerah Kerajaan Yogyakarta dan merupakan seorang abdi dalem Kerajaan Yogyakarta dengan pangkat Tumenggung. Pada waktu itu Kerajaan Yogyakarta dibawah kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono IV. Kenapa Tumenggung Notodiwirya bisa sampai ke Desa Tawing? Ini sangat erat sekali kaitannya dengan penjajah Belanda. Setelah kekalahan Belanda dalam Peperangan era Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita. Banyak hasil bumi diambil oleh Belanda. Guna semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan salah satu di antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat, tampu kepemimpinan Kerajaan digantikan oleh kemenakannya yaitu Sultan Hamengku Buwono V  yang baru berusia 3 Tahun. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan / adat kerajaan. Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan, mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor jalan tersebut tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam tersebut. Namun Belanda tetap memasang patok-patok tersebut bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pangeran Diponegoro mengganti patok-patok tersebut dengan tombak. Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena dinilai telah memberontak, pada tanggal 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau. Merasa terDesak, Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda yang tidak berhasil menangkap Pangeran Diponegoro membakar habis kediaman Pangeran. Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5 Tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu dalam semangat Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran dan puluhan tumenggung bergabung dengan Pangeran Diponegoro dan salah satu tumenggung tersebut adalah Tumenggung Notodiwirya. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Modjo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan. Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu, suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu di mana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama pada masa itu yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerrilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan (Surpressing). Perang ini bisa dikategorikan sebagai suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi  dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak penjajah Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran, dan kegiatan telik sandi (spionase) di mana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.
Pada Tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Pangeran Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada Tahun 1829, Kyai Modjo ditangkap menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. Dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro, pengikut-pengikut setianya banyak yang melarikan diri ke wilayah Jawa Timur. Dan beberapa pengikut yang berhasil meloloskan diri hingga mencapai daerah Tulungagung adalah Tumenggung Notodiwirya beserta pengikutnya di daerah Tawing, Tumenggung Bono beserta pengikutnya di daerah Bono Kecamatan Pakel dan Tumenggung Soerontani beserta pengikutnya di daerah Wajak Kecamatan Boyolangu. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Tumenggung Notodiwirya dan Tumenggung Soerontani masih ada ikatan saudara tunggal guru (seperguruan), sehingga para orang-orang tua dahulu selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk selalu menjaga silahturrahmi yang baik antar kedua Desa dan apabila ada acara gelaran  tradisional tiban yaitu ritual untuk memohon hujan, maka kedua belah pihak dilarang untuk saling berhadapan sebagai lawan. Mengapa demikian? Karena apabila dilanggar maka kedua belah pihak akan mengalami sampyuh, segala ilmu kanuragan yang dimiliki akan luntur dan tidak bisa melindungi diri. Tumenggung Notodiwirya mencapai daerah Tawing sekitar Tahun 1830-an dan memutuskan bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda. Pada waktu itu kondisinya daerah Tawing masih berupa hutan belantara dan rawa-rawa. Beliau dan pengikutnya membuka hutan dan rawa-rawa untuk mendirikan permukiman. Dalam perjalanannya beliau juga mendirikan pondok pesantren di daerah Tawing. Pondok pesantren tersebut saat ini hanya tinggal cerita. Namun sebuah fakta pendukung muncul pada Tahun 2001, pernah datang seorang santri dari salah satu pondok pesantren di Kabupaten Magelang Jawa Tengah yang berkunjung di tempat yang diduga tempat pondok pesantren tersebut berdiri. Sang santri pada waktu itu menemui saudara Gunawan salah satu warga Desa Tawing untuk minta ditunjukkan letak pondok pesantren tersebut. Ia ingin membuktikan cerita gurunya bahwa leluhur gurunya pada waktu perang Diponegoro ada yang melarikan diri bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda dan mendirikan pondok pesantren di Desa Tawing. Dan tempat yang diduga letak berdirinya pondok pesantren saat ini dikenal masyarakat Desa dengan nama daerah Pondok.  Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan Tumenggung Notodiwirya wafat. Namun di salah salah dusun di Desa Tawing ada petilasan punden pesarean Tumenggung Notodiwirya yang diyakini masyarakat Desa bahwa di tempat itulah beliau dimakamkan. Pesarean tersebut berada di tengah- tengah pemukiman warga menempati area tanah Desa seluas 60 M2. Jarak pesarean tersebut dari tempat yang diduga tempat pondok pesantren berjarak lebih kurang 600 meter. Dusun tempat pesarean Tumenggung Notodiwiryo saat dikenal masyarakat Desa dengan nama Dusun Temenggungan. Pesarean Tumenggung Notodiwirya tidak ada juru kunci penjaganya. Namun pesarean tersebut sering didatangi warga Desa utamanya yang mempunyai hajatan  untuk ritual selamatan. Juga tidak sedikit warga luar daerah yang datang secara khusus di pesarean tersebut untuk ritual nyadran dengan tujuan tertentu.
  1. Cerita Asal Usul Nama Tawing
Telah dijelaskan diatas bahwa terbentuknya daerah Tawing adalah atas kerja keras dari Tumenggung Notodiwirya dan pengikutnya yang telah membuka hutan dan rawa-rawa menjadi perkampungan untuk tempat persembunyian dari kejaran penjajah Belanda. Asal usul nama Tawing itu sendiri sampai saat ini tidak ada sumber informasi yang bisa menjelaskan secara pasti kapan mulai ada dan siapa yang memberi nama. Ada cerita dari masyarakat karena dahulu pada waktu Tumenggung Notodiwirya membuka hutan, pohon-pohon yang hidup di hutan tersebut mayoritas pohon jenis Luwingan maka untuk memudahkan dalam mengingat nama daerah akhinya tercetus nama Tawing yang diambil dari nama pohon Luwingan itu sendiri. Ada juga sebagian kecil masyarakat yang menduga-duga karena  Desa Tawing  duhulunya daerah rawa-rawa tentu banyak hewan serangga luwing (kelabang). Karena tanah yang banyak luwingnya maka disebutlah menjadi  daerah Tawing. Namun kalau dilihat secara harfiah, kata Tawing berasal dari dua suku kata yaitu “ta” dan “wing”. Ta dari penggalan kata tanah dan Wing penggalan dari kata wingit (angker / tersembunyi). Jadi kata Tawing penggalan dari dua kata tanah wingit dengan dikandung maksud tanah wingit yang cocok untuk bersembunyi. Mana yang benar dari beberapa pernyataan tersebut tentunya tidak disoalkan oleh warga Desa yang mayoritas beragama islam yang selalu menjunjung tinggi kerukunan, kegotongroyongan dan tidak meninggalkan adat istiadat  yang berlaku.

Wilayah Desa

0
Dusun
0
Rukun warga
0
Rukun tetangga
Wilayah Dusun
Batas Wilayah

Visi & Misi

Terciptanya tata kelola Pemerintahan Desa yang lebih baik guna mewujudkan masyarakat Desa Tawing yang Religius, Sehat, Aman, dan Tentram serta Mandiri.

  1. Pembangunan moral spiritual masyarakat melalui Bidang Agama dan Budaya.
  2. Menciptakan rasa Aman, Tentram dalam suasana kehidupan desa yang demokratis
  3. Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good goverment), sehingga tercipta layanan publik yang optimal.
  4. Mengembangkan semangat kewirausahaan yang berbasis pada potensi ekonomi asli desa
  5. Melaksanakan pembangunan infrastruktur dasar.
  6. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat
  7. Mengembangkan ekonomi masyarakat kurang mampu.
  8. Menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi.
  9. Mengembangkan partisipasi masyarakat dan kemitraan dalam pelaksanaan pembangunan desa
  10. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dalam pembangunan desa yang berkelanjutan.
  11. Optimalisasi produksi pertanian guna peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Perangkat Desa

Aparat desa Tulungagung periode 2019-2020

Nanang Setiawan, SE

Kepala Desa

Suryadi

Kasi Kesejahteraan dan Pelayanan

Santoso, SP

Kaur Perencanaan

Heriyanto

Kaur Keuangan

Supatmi

Kasi Pemerintahan

Nur Yasin

Kasun Karang

Ingin tahu statistik desa?

Semua data statistik tentang desa